Showing posts with label Perencanaan. Show all posts
Showing posts with label Perencanaan. Show all posts

Ketentuan Umum Untuk Memilih Pandangan Dalam Gambar Teknik

22:49 Add Comment
Selamat berjumpa kembali di Machinedo Blog kali ini saya akan membakikan tips dalam menggambar proyeksi ortogonal. Nah agar kita dapat membuat pandangan gambar yang baik yaitu pandangan yang tidak berlebihan atau kurang, maka berikut ini diberikan beberapa ketentuan umum untuk memilih pandangan.

  1. Jangan menggambar pandangan lebih dari yang diperlukan untuk melukis benda.
  2. Pilihlah pandangan yang sekiranya dapat memperlihatkan bentuk benda yang paling baik.
  3. Utamakanlah pandangan dengan garis yang tidak kelihatan yang paling sedikit.
  4. Pandangan sebelah kanan lebih utama dari pandangan sebelah kiri, kecuali kalau pandangan kiri memberi keterangan yang lebih banyak.
  5. Pandangan atas lebih utama dari pandangan bawah, kecuali kalau pandangan bawah memberi keterangan yang lebih banyak.
  6. Pilihlah pandangan yang sekiranya dapat mengisi ruang gambar sebaik-baiknya.
Begitulah sedikit ilmu yang dapat saya sampaikan semoga bermanfaat.

Referensi : 
  • Buku Ajar Gambar Teknik UNNES Oleh Drs.Muhammad Khumaedi, M.Pd

Cara Menggambar Manual Segi Enam Sama Sisi

19:06 Add Comment
Perlihatkan pembuatan segi enam di dalam sebuah lingkaranpada Gambar 1.0. Caranya ialah setelah membuat lingkaran, kemudian dengan tidak mengubah jari-jari lingkaran dari titik D dan C dilingkarkan kembali jari-jari tersebut sehingga memotong di titik E dan F, juga G dan H. Hubungkan titik-titik D, E, G, C, G, F, dan D dengan garis lurus sehingga saling menutup membentuk segi enam beraturan. 
Cara Menggambar segi enam sama sisi
Gambar 1.0

Gambar 2.0 memperlihatkan cara pembuatan segi enam di luar lingkaran. Caranya adalah buat garis sejajar sumbu AB l dan m sehingga menyinggung lingkaran dititik Q dan T. Dari titik pusat O buat sudut 30' membentuk sudut COQ dan QOD. Buat garis CE dan DF melalui titik pusat O. Hubungkan titik C dan D, serta titik F dan E sehingga terbentuk garis CD dan FE. Buat garis CA, FA, DB, dan EB yang menyinggung lingkaran di titik P, V, S, dan R. Terbentuk segi enam ACDBEF yang terletak di luar lingkaran.
Gambar 2.0

Refensi : 
  • Buku Ajar Gambar Teknik UNNES Oleh Drs.Muhammad Khumaedi, M.Pd

Macam-Macam Garis Gambar Teknik Mesin

20:48 Add Comment
Dalam gambar teknik mesin dipergunakan beberapa macam garis yang mempunyai fungsi berbeda-beda sesuai dengan tujuannya. Masing-masing garis tersebut dibuat dengan fungsi, bentuk dan tebal yang berbeda sesuai dengan aturan yang ada. Adapun fungsi, bentuk dan tebal garis yang dipergunakan dalam gambar teknik mesin adalah seperti terlihat pada Tabel 2 di bawah ini.



































Ketebalan garis gambar di atas sudah standar, tetapi bisa juga di dalam pemakaiannya tukang gambar hanya menggunakan perkiraan di dalam menetapkan garis gambar yang digunakan, keadaan seperti ini dapat timbul jika gambar-gambar yang dibuat terlalu kecil atau komponen-komponen yang digambar terlalu banyak, sehingga apabila dibuat garis sesuai aturan, mungkin timbul kesan gambarnya menjadi kurang sesuai atau mungkin menjadi sempit. Untuk menghindari kesan-kesan tersebut maka tebal garis, dibuat dengan menggunakan perbandingan seperti di bawah ini.

Untuk memperjelas penggunaan dari masing-masing jenis garis tersebut, dapat dilihat Gambar 3. Pada gambar tersebut nampak bahwa masing-masing jenis garis digunakan sesuai dengan fungsinya seperti yang telah dijelaskan.
Gambar .3

Sekian terima kasih dan semoga bermanfaat.
Sumber : Buku Ajar Gambar Teknik UNNES Oleh Drs.Muhammad Khumaedi, M.Pd

Pengertian dan Macam-Macam Proyeksi Ortogonal

20:08 Add Comment
Gambar proyeksi: Untuk menyajikan sebuah gambar benda tiga dimensi pada sebuah bidang dua dimensi dipergunakan cara proyeksi. Proyeksi merupakan cara pandang benda dari titik, garis,bidang yang merupakan suatu gambar yang akan kita lihat dari setiap sisi-sisinya. berikut ini ada beberapa jenis proyeksi, diantaranya sebagai berikut :

1. Proyeksi Isometri

Sebagai contoh diambil sebuh kubus. kemudian kubus ini diletakan seperti pada gambar isometri tersebut. kemudian kubus ini dimiringkan sehingga bendanya berdiri tegak lurus pada bidang vertikal, sudut antar bidang bawah dan bidang horizontal menjadi 35°. ketika proyeksi ini dibidang P proyeksinya akan menunjukan ketiga bidang dari kubus. dalam gambar ini proyeksi ini sisi-sisi AB,AD,AE sama panjang, dan saling berpotongan pada sudut yang sama pula, yaitu 120°. Ketiga garis lurus AB, AD, dan AE adalah sumbu-sumbu isometri. Panjang masing-masing sisi lebih pendek dari pada panjang sisi sebelumnya, panjang garis-garis dapat diukur pada sumbu sekala yang sama yaitu 0,82 : 1. hasilnya dari sin 54. oleh karena itu sekala perpendekan ini ditentukan demikian rupa hingga skala standart pada garis miring 45° dipindahkan pada garis miring 30°, sekala ini disebut skala isometri.

2.Proyeksi Dimetri

Proyeksi Dimetri
Pada gambar dismping menunjukan dimana skala perpendekan dari dua sisi dan dua sudut dengan garis horizontal sama, disebut proyeksi dimetri.






3. Proyeksi Trimetri
Proyeksi Trimetri
Dimana skala perpendekan dari tiga sisi dan tiga sudut tidak sama dengan demikian proyeksi ini disebut proyeksi trimetri.





4. Proyeksi Ortogonal
Proyeksi Ortogonal
Proyeksi yang bidang proyeksinya mempunyai sudut tegak lurus terhadap proyektornya, garis-garis memperoyeksikanya benda terhadap bidang proyeksi disebut bidang proyektor. selain proyektor tegak lurus terhadap bidang proyeksinya juga proyektor-proyektor tersebut sejajar satu sama lain.

Demikianlah yang saya uraikan tentang 4 proyeksi/pandangan pada gambar mudah-mudahan bermanfaat sekian dan terimakasih wasalam



Perhitungan Roda Gigi Payung

23:57 Add Comment
Apabila diinginkan memindah daya pada posisi poros yang bersinggungan (intersection) dapat digunakan roda gigi payung. Contoh penggunaan roda gigi ini misalnya pada : drill chuck, jalur vertikal pada mesin planning, mekanisme pengatur langkah pada mesin sekrap dan pengatur arah pada mesin bor pekerjaan berat. Pada umumnya pasangan roda gigi payung membentuk sudut 90° namun dalam hal tertentu dapat dibuat pasangan roda gigi payung dengan dengan sudut lebih besar dan lebih kecil dari 90°.
Pemakaian roda gigi payung (Bevel gear) adalah untuk memindahkan putaran (daya putar) dari suatu poros yang lainnya dengan berbagai macam posisi menyudut dan berbagai macam perbandingan putaran.

Berbagai macam sudut tersebut dapat kita katagorikan menjadi 3 macam yaitu :
  • Besar sudut sama dengan 90°
  • Besar sudut lebih kecil dari 90°
  • Besar sudut lebih besar dari 90°
Jika dilihat dari sistem pembentukan profil gigi dari dasar-dasar pengukurannya, roda gighi payung ini sama halnya dengan roda-roda gigi lainnya, yaitu dibentuk dengan 2 sistem :
  • Menurut sistem metrik (MM)
  • Menurut sistem Diametral Pitch (DP)
Dalam pembuatan roda gigi payung ini pada perencanaanya adalah harus selalu berpasanagan, karena antara yang saatu dengan lainnya itu, baik dari bentuk maupun ukurannya adalah akan saling berpengaruh. Atau tegasnya apabila sepasang roda gigi payung telah direncanakan untuk suatu pemindahan tenaga atau putaran dengan suatu perbandingan tertentu dan dengan besar sudut antara kedua porosnya sudah tertentu pula, maka kedua roda gigi tersebut tidak bisa dipakai untuk perbandingan ataupun besar sudut yang lainnya.

GAMBAR HUBUNGAN SEPASANG RODA GIGI PAYUNG DENGAN SUDUT 90°

Keterangan :
Dk = Diameter kepala
Dt = Diameter tusuk
R = Jari-jari penjuru
b = Lebar gigi
Ha = Tinggi kepala gigi
Hi = Tinggi kakia gigi
α = Sudut poros
β = Sudut tusuk
ϫ = Sudut mika
λ = Sudut potong
ᵟ = Sudut kepala
€ = Sudut kaki
θ = Sudut miring samping

SISTEM METRIK
Ketentuan-ketentuan untuk sistem metrik adalah sama halnya dengan untuk roda-roda gigi lurus yaitu :

Modul Gigi (M)
Modul gigi ditentukan pada lingkaran-jarak-bagi paling besar yaitu :
t D1
M = ----- = ------- (mm)
π z1
Keterangan :
M = Modul gigi (mm)
t = Jarak antara gigi terluar (mm)
D = Diameter jarak gigi (mm)
Z = Jumlah gigi

Diameter Tusuk ( Dt ) :
Dt = Z . M
Tinggi kepala gigi ( Ha )
Ha = 0,8 . M
Tinggi kaki gigi ( Hi )
Hi = 1 . M
Tinggi gigi ( Hg )
Hg = 1,8 . M
Dan aja juga yang menggunakan ketentuan :
Ha = 1 . M
Hi = 1,66 . M
Hg = 2,66 . M

Jika sepasang roda gigi payung bekerja dengan sudut antara porosnya adalah 90° , maka :

Untuk roda gigi I

               Z1
Tg α1 = -----
               Z2
Untuk roda gigi II


               Z2
Tg α2 = -----
               Z1

              Dt1
R1 = ------------ ( Untuk roda gigi I )
         2 Sin β 1


                Dt2
R2 = -------------- ( Untuk roda gigi II )
           2 Sin β 2


             Ha
Tg ᵟ = -------
             R1

             H1
Tg € = -----
              R

Sudut muka = Sudut tusuk + Sudut kepala ( ϫ = β + ᵟ )
Sudut potong = Sudut tusuk – Sudut kaki ( λ = β - € )
Sudut miring samping = 90° – Sudut tusuk ( 90° - β )



SOAL : PERHITUNGAN RODA GIGI PAYUNG
1. Hitunglah dimensi / ukuran suatu roda gigi payung, jika diketahui jumlah gigi yang dibuat adalah : Z = 24 buah, Modul yang digunakan Modul M 2,75 dan sudut tusuknya adalah β = 45º



JAWAB :
1. Diameter Tusuk (Dt)
Dt = Z x M
     = 24 x 2,75
     = 66 mm

2. Diameter Kepala (Dka)
Dka = Dt + 1,6 x M Cos β
        = 66 + 1,6 x 2,75 x Cos 45º
        = 66 + 4,4 x 0,7071
        = 69 mm

3. Tinggi Kepala Gigi (Ha)
Ha = 0,8 x M
      = 0,8 x 2,75
      = 1,76 mm

4. Tinggi Kaki Gigi (Hi)
Hi = 1 x M
     = 1 x 2,75
     = 2,75 mm

5. Tinggi Gigi (Hz)
Hz = Ha + Hi
      = 1,76 + 2,75
      = 4,51 mm

6. Panjang Penjuru (R)
           Dt                66
R = ---------- = ------------ = 46,67 mm
       2 Sin β       2 . Sin 45º

7. Lebar Gigi (B)
       1.R       46,67
B = ----- = --------- = 15,5 mm
         3             3



8. Sudut Kepala Gigi

              Ha        1,76
Tg α = ------ = --------- = 0,0377
              R         46,67

      α = 2 º 9’


9. Sudut kaki Gigi

             Hi          2,75
Tg η = ------ = --------- = 0,05892
              R         46,67

        η = 3 º 22’


10. Sudut Muka (Ϫ )
Ϫ = β + α
    = 45º + 2 º 9’
    = 47 º 91’

11. Sudut Potong (λ)

λ = β + η
   = 45º + 3 º 22’
   = 41 º 38’



12. Θ = 90º - 45º
          = 45º



PUTARAN POROS ENGKOL KEPALA PEMBAGI

         40           40             16             4                    12
T = ------- = -------- = 1 ------- = 1 ------ ( 3 ) = 1 -------
          Z           24              24            6                     18



Jadi putaran poros engkol kepala pembagi adalah 1 (satu) putaran ditambah 12 lubang pada kedudukan (posisi) lubang piring pembagi berjumlah 18.

Terima Kasih
Sumber : Falbi

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *